Meski Rusia belakangan mulai menunjukkan sinyal yang lebih terbuka terhadap diplomasi dan kemungkinan pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Volodymyr Zelenskyy, realisasi pertemuan tersebut dalam waktu dekat masih tampak sulit.
Pakar ilmu politik dan Eurasia Dr. Umit Nazmi Hazır menulis analisis untuk Anadolu mengenai perubahan terbaru dalam retorika terkait Perang Rusia-Ukraina serta berbagai hambatan yang masih menghalangi proses perdamaian.
Perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki tahun kelima masih terus berlangsung tanpa banyak tanda-tanda mereda. Selama periode tersebut, delegasi Rusia dan Ukraina memang telah beberapa kali duduk di meja perundingan, termasuk dalam pembicaraan yang melibatkan Amerika Serikat. Namun, perang yang telah berubah menjadi perang pengurasan sumber daya itu masih belum menghasilkan penyelesaian yang diharapkan.
Terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebabnya. Pertama, kedua pihak belum mampu meraih keunggulan mutlak di medan perang sehingga situasi saat ini cenderung menemui jalan buntu. Kedua, baik Rusia maupun Ukraina belum berhasil mencapai tujuan akhir mereka sepenuhnya. Ketiga, kedua pihak masih enggan melonggarkan tuntutan masing-masing. Moskow, khususnya, tetap mempertahankan tuntutan maksimalisnya.
Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir terlihat adanya perubahan baik dalam keseimbangan situasi di medan perang maupun dalam pernyataan yang disampaikan Kremlin.
Pada peringatan Hari Kemenangan 9 Mei, yang merupakan hari nasional penting Rusia dan tahun ini diperingati lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada para jurnalis bahwa konflik tersebut mulai mendekati akhir dan dirinya terbuka untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga.
Dalam salah satu pernyataannya, Putin mengatakan, “Saya kembali mendengar bahwa Tuan Zelenskyy siap melakukan pertemuan secara langsung.”
Pernyataan itu menarik perhatian karena Putin tidak hanya menyebut nama Zelenskyy, tetapi juga menggunakan sapaan "Tuan". Selama ini Putin umumnya menghindari menyebut nama Zelenskyy secara langsung. Sejak perang dimulai, opini publik Rusia kerap menggambarkan Zelenskyy sebagai pemimpin yang tidak sah, sementara media Rusia sering menggunakan istilah bernada negatif untuk merujuk kepadanya.
Karena itu, pernyataan Putin pada Hari Kemenangan dipandang sebagai sinyal pelunakan dalam retorika Kremlin.
Nada yang lebih kompromistis dari Putin memunculkan pertanyaan apakah perubahan tersebut merupakan langkah taktis untuk mengurangi tekanan dari Presiden AS Donald Trump dan menghindari konfrontasi dengan Washington, atau justru dipicu oleh kondisi di medan perang yang semakin berkepanjangan.
Menurut Hazır, kedua faktor tersebut kemungkinan sama-sama berperan.
Serangan pesawat nirawak Ukraina ke wilayah Rusia dalam beberapa bulan terakhir, ditambah strategi pertahanan aktif yang diterapkan Kyiv di garis depan, telah memperkuat posisi Ukraina sampai batas tertentu.
Majalah The Economist bahkan mengklaim bahwa inisiatif perang untuk pertama kalinya mulai bergeser ke pihak Ukraina dan ofensif musim semi Rusia mengalami kegagalan.
Institute for the Study of War (ISW) juga menyebut bahwa pasukan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir melancarkan sejumlah serangan balasan di berbagai wilayah dan meraih kemajuan paling signifikan sejak infiltrasi mereka ke wilayah Kursk pada Agustus 2024.
Seluruh faktor tersebut kemungkinan mendorong Kremlin untuk lebih terbuka terhadap perundingan dan menggunakan retorika yang lebih kompromistis.
Meski demikian, Rusia tetap melanjutkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Ukraina, menggelar latihan nuklir bersama Belarus, serta menghadapi peningkatan ketegangan dengan negara-negara Baltik dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Kremlin tidak melihat diplomasi sebagai pengganti tekanan militer, melainkan sebagai pelengkapnya.
Dari sudut pandang budaya strategis Rusia, berbicara dengan nada yang lebih lunak sambil tetap melanjutkan operasi militer bukanlah kontradiksi strategis, melainkan bentuk diplomasi tekanan.
Meskipun Rusia kini lebih terbuka terhadap diplomasi dan kemungkinan pertemuan Putin-Zelenskyy, pelaksanaan pertemuan tersebut dalam waktu dekat masih belum realistis.
Putin sendiri menegaskan bahwa pertemuan hanya dapat berlangsung apabila telah tercapai kesepakatan akhir mengenai perjanjian damai jangka panjang.
Agar pertemuan tingkat tinggi itu dapat terlaksana, proses perdamaian harus menunjukkan kemajuan nyata, kedua pihak harus mencapai kesepakatan dalam banyak isu, serta pembicaraan di tingkat menteri luar negeri perlu dilakukan terlebih dahulu.
Dengan kata lain, pertemuan Putin-Zelenskyy diproyeksikan sebagai tahap akhir dari proses negosiasi, bukan titik awalnya.
Namun hingga saat ini, Moskow dan Kyiv masih mempertahankan posisi yang berbeda dalam berbagai isu utama.
Salah satu persoalan terbesar yang menyebabkan kebuntuan adalah masalah wilayah, terutama terkait Donetsk.
Tak lama setelah pernyataan Putin, Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin Yuri Ushakov mengatakan bahwa waktu dimulainya negosiasi masih belum pasti dan Moskow tetap mempertahankan syarat terkait Donetsk.
Kremlin telah lama menyatakan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum Ukraina menarik pasukannya dari sekitar 30 persen wilayah Donetsk yang hingga kini belum dikuasai Rusia.
Bagi Kremlin, penguasaan penuh Donetsk juga penting untuk membangun narasi keberhasilan di hadapan publik domestik.
Sebaliknya, pemerintah Ukraina menolak menarik diri dari wilayah yang masih mereka kuasai di Donetsk.
Kyiv berpendapat bahwa wilayah tersebut memiliki sistem pertahanan yang telah diperkuat dan selama ini berhasil menghambat kemajuan Rusia. Jika Ukraina mundur dari wilayah tersebut, Rusia berpotensi memperoleh akses yang lebih luas untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Ukraina.
Karena itu, persoalan wilayah tampaknya menjadi isu paling krusial yang harus diselesaikan agar perdamaian dapat tercapai dan pertemuan Putin-Zelenskyy dapat terwujud.
Selain itu, terdapat sejumlah syarat minimum lain yang juga perlu dipenuhi. Kedua pihak terlebih dahulu harus mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata.
Selanjutnya, isu jaminan keamanan bagi Ukraina yang peluangnya untuk menjadi anggota NATO kini semakin kecil juga harus diselesaikan. Dalam konteks ini, peran negara-negara penjamin seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Turkiye perlu diperjelas.
Yang tidak kalah penting, kedua pemimpin harus mampu menyajikan hasil kesepakatan kepada publik masing-masing sebagai sebuah pencapaian, bukan sebagai bentuk konsesi.
Sebab, setelah perang berakhir, masyarakat Rusia dan Ukraina akan melakukan evaluasi terhadap perang yang berlangsung selama bertahun-tahun dan menelan biaya serta pengorbanan besar, termasuk mempertanyakan apa yang berhasil diraih dan apa yang harus dikorbankan.
[Dr. Umit Nazmi Hazır adalah ilmuwan politik dan pakar Eurasia.]
*Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan editorial Anadolu.
news_share_descriptionsubscription_contact


