Rhany Chairunissa Rufinaldo
18 Juli 2019•Update: 19 Juli 2019
Aamir Latif
KARACHI, Pakistan
Mantan Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi ditangkap atas skandal korupsi terkait pemberian kontrak impor gas alam cair (LNG) bernilai multi-miliar rupee, Kamis.
Abbasi menjabat selama 10 bulan pada 2017-2018, setelah Mahkamah Agung mendiskualifikasi Nawaz Sharif, mantan perdana menteri dan ketua Liga Muslim Pakistan (PML-N), dari jabatan resmi apa pun.
Para detektif dari badan anti-korupsi, Biro Akuntabilitas Nasional (NAB), terlihat membawa Abbasi ke tahanan, di kota Lahore, Pakistan.
Seorang juru bicara NAB mengatakan bahwa mantan perdana menteri itu atas dugaan keterlibatannya dalam skandal korupsi, yang melibatkan impor LNG dari Qatar, ketika dia menjadi menteri energi di bawah kepemimpinan Sharif dari 2013 hingga 2017.
Dia mengatakan Abbasi telah diminta untuk hadir menemui NAB untuk bekerja sama dalam investigasi yang sedang berlangsung, tetapi dia tidak mengindahkan panggilan tersebut.
Membantah tuduhan itu, Abbasi justru menuduh pemerintah Perdana Menteri Imran Khan melakukan aksi balas dendam terhadap oposisi.
Dia adalah perdana menteri kedua setelah Nawaz Sharif yang ditangkap atas tuduhan korupsi selama satu tahun terakhir.
Sebelumnya, mantan Presiden Asif Zardari juga ditahan atas dugaan terlibat dalam kasus pencucian uang.
Awal bulan ini, Pasukan Anti-Narkotika (ANF) menangkap seorang pemimpin oposisi lainnya dan presiden PML-N provinsi Punjab Rana Sanaullah atas tuduhan perdagangan narkoba.
Langkah-langkah ini secara luas dilihat sebagai bagian dari gelombang penangkapan terhadap para pemimpin oposisi di negara itu.
Mariyum Aurungzeb, juru bicara PML-N yang juga wakil presiden senior partai itu, mengkonfirmasi penangkapan Abbasi dan mengkritik pemerintah.
Dia menggambarkan penangkapan itu sebagai bentuk viktimisasi politik.
Didirikan pada 2000 oleh mantan penguasa militer Jenderal Pervez Musharraf, NAB sering dituduh menargetkan politisi anti-pemerintah.
Puluhan pemimpin, termasuk dari Tehreek-e-Insaf (PTI) yang berkuasa di Pakistan dan sekutunya, juga menghadapi penyelidikan dalam berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Ketua NAB dan mantan hakim Mahkamah Agung Javed Iqbal juga terlibat dalam kontroversi beberapa bulan yang lalu, ketika sebuah saluran TV lokal menyiarkan percakapan telepon tidak senonoh antara dia dan istri seorang terdakwa yang menghadapi persidangan di pengadilannya.