Iqbal Musyaffa
26 Februari 2020•Update: 26 Februari 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan defisit anggaran dalam APBN 2020 kemungkinan melebar dari target yang ditetapkan sebesar Rp307,2 triliun atau 1,76 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan desain defisit dalam APBN 2020 cukup konservatif, sehingga masih ada ruang untuk memperlebar defisit APBN.
“Kita akan lihat dan hitung semua aspek dulu, tidak hanya karena korona. Ini masih bulan Februari, kita akan lihat ke depannya tapi mungkin sedikit melebar,” ujar Menteri Sri Mulyani di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan pada saat kondisi ekonomi melemah seperti saat ini, pemerintah harus tetap mengelola ekonomi di tengah penerimaan pajak yang turun sehingga harus mempersiapkan diri untuk meningkatkan defisit.
“Kalau pemerintah ikut mengencangkan ikat pinggang dengan memotong semua belanja saat penerimaan turun, yang terjadi adalah pro-cyclical, maka ekonomi akan nyungsep,” lanjut dia.
Oleh karena itu, Menteri Sri Mulyani mengatakan pemerintah mengambil sikap counter-cyclical atau melawan siklus pelemahan ekonomi.
Dia mengatakan Menteri Keuangan bukanlah seorang cheerleader yang harus mengikuti siklus ekonomi.
Menteri Sri Mulyani mengatakan Menteri Keuangan harus memiliki kemampuan untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar dapat menopang ekonomi Indonesia di tengah kondisi apa pun, sehingga pemerintah tidak akan menekan defisit.
Dia mencontohkan pemerintah pada tahun ini mendorong pengesahan RUU Omnibus Law Perpajakan untuk melonggarkan berbagai ketentuan perpajakan agar para pelaku usaha memiliki ruang lebih untuk memperbesar bisnisnya.
Menteri Sri Mulyani mengatakan untuk menutup defisit yang melebar tersebut akan diambil dari pembiayaan atau utang yang akan tetap dijaga sesuai ketentuan yang ada.