Rania Abushamala
03 Juni 2026•Update: 03 Juni 2026
Kuwait menyatakan satu orang tewas dan 63 lainnya terluka akibat serangan yang diklaim dilakukan Iran, seraya menegaskan bahwa negara itu memiliki “hak penuh” untuk mengambil langkah respons sesuai hukum internasional.
Dalam pernyataan pada Rabu, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras apa yang disebut sebagai “serangan brutal dan berkelanjutan” Iran menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak.
Kementerian tersebut mengatakan serangan terbaru yang terjadi pada Rabu dini hari menargetkan fasilitas “sipil dan vital”, termasuk Bandara Internasional Kuwait.
Menurut pernyataan itu, serangan menyebabkan satu korban jiwa, sejumlah korban luka, serta kerusakan pada infrastruktur penting, termasuk misi-misi diplomatik.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kuwait Abdullah Al-Sanad mengatakan sebanyak 63 orang mengalami luka-luka dalam serangan tersebut, termasuk tujuh orang yang harus menjalani operasi darurat besar.
Dalam keterangannya, Al-Sanad menjelaskan bahwa para korban terdiri atas pegawai bandara dan para pelancong, dengan cedera yang mencakup patah tulang, luka di kepala, pendarahan otak, hingga amputasi anggota tubuh.
Kementerian Luar Negeri Kuwait menegaskan bahwa negara itu memiliki “hak penuh dan melekat” untuk mengambil langkah yang dianggap tepat sebagai respons terhadap serangan tersebut sesuai dengan hukum internasional.
Kuwait juga menyatakan “menolak sepenuhnya” apa yang disebut sebagai serangan agresif terang-terangan Iran, seraya menilai tindakan itu memperparah eskalasi, meningkatkan ketegangan regional, serta mengancam keamanan dan stabilitas kawasan.
Menurut kementerian tersebut, serangan itu merupakan “pelanggaran mencolok” terhadap hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 Tahun 2026.
Kementerian menegaskan bahwa keamanan, kedaulatan, serta keselamatan warga negara dan penduduk Kuwait merupakan “garis merah yang tidak dapat dilanggar”, serta memperingatkan bahwa serangan berulang mencerminkan pendekatan agresif yang sistematis dan tidak akan diterima maupun ditoleransi oleh negara itu.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan tersebut menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait sebagai balasan atas serangan AS terhadap Pulau Qeshm di selatan Iran pada Rabu dini hari.