Mantan Duta Besar Turkiye untuk Rusia sekaligus mantan Asisten Sekretaris Jenderal NATO Bidang Kebijakan dan Perencanaan Pertahanan Hüseyin Diriöz mengatakan KTT NATO di Ankara berpotensi menjadi salah satu pertemuan paling penting dalam menentukan arah masa depan aliansi. Menurut dia, isu-isu yang selama ini menjadi inti peran Turkiye di NATO, mulai dari pertahanan kolektif, stabilitas kawasan, keamanan Laut Hitam, terorisme, kerja sama industri pertahanan hingga masa depan keamanan Eropa, kini kembali menjadi prioritas utama.
Diriöz mengatakan perkembangan tersebut semakin memperkuat posisi strategis Turkiye dalam keamanan kawasan Euro-Atlantik. Meski demikian, dia menilai sebagian kalangan di Eropa masih belum sepenuhnya memahami kedalaman peran strategis Turkiye. Karena itu, KTT Ankara dinilai menjadi kesempatan untuk membangun dialog yang lebih terbuka, saling menghormati, dan berorientasi ke depan di antara negara-negara anggota NATO.
Dia mengingatkan bahwa sejak bergabung dengan NATO pada 1952, Turkiye tidak pernah menjadi anggota pinggiran. Sebaliknya, negara itu berada di pusat tiga misi utama NATO, yakni pertahanan kolektif, manajemen krisis, dan keamanan kooperatif. Selain menjadi kekuatan utama di Laut Hitam, Turkiye juga berperan di kawasan Mediterania, Kaukasus, Timur Tengah, serta terus berkembang sebagai kekuatan industri pertahanan.
Dampak perang Rusia-Ukraina
Diriöz mengatakan Turkiye merupakan salah satu dari sedikit anggota NATO yang tetap mempertahankan jalur dialog dengan Rusia sambil tetap mendukung integritas wilayah Ukraina. Menurutnya, Rusia memang menjadi tantangan strategis bagi Ankara, namun bukan satu-satunya persoalan keamanan yang dihadapi.
Dia menjelaskan Turkiye juga harus menghadapi ancaman terorisme, migrasi ilegal, negara-negara rapuh di perbatasan selatan, keamanan jalur energi, keamanan maritim, hingga konflik yang membentang dari Suriah sampai Kaukasus Selatan. Karena itu, pendekatan Turkiye terhadap Rusia tidak dapat dipandang sebagai sikap yang lebih lunak, melainkan sebagai kebijakan yang dibentuk oleh faktor geografis, sejarah, dan tanggung jawab kawasan.
Menurut Diriöz, keberhasilan Turkiye memediasi Inisiatif Gandum Laut Hitam membuktikan bahwa kemampuannya menjaga komunikasi dengan kedua pihak mampu menghasilkan solusi nyata ketika jalur diplomasi lain mengalami kebuntuan. Dia menegaskan kemampuan menjaga keseimbangan tersebut seharusnya dipandang sebagai aset strategis NATO, bukan sebagai kelemahan.
Turkiye dalam arsitektur keamanan Eropa
Diriöz menilai perubahan situasi keamanan Eropa menuntut pemahaman yang lebih komprehensif terhadap kontribusi Turkiye. Selain memiliki kekuatan militer, Turkiye juga memiliki keunggulan diplomatik dan geopolitik melalui hubungan yang luas di Balkan, Kaukasus Selatan, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika.
Menurutnya, jaringan hubungan tersebut dibangun selama puluhan tahun melalui diplomasi, perdagangan, kerja sama pembangunan, hubungan budaya, serta kemitraan keamanan. Hal itu menjadi modal penting ketika pengaruh global Eropa menghadapi tantangan baru.
Dia mencontohkan kegagalan Jerman memperoleh kursi tidak tetap Dewan Keamanan PBB sebagai sinyal bahwa Eropa tidak lagi dapat mengandalkan pengaruhnya secara otomatis di luar kawasan Euro-Atlantik. Dalam situasi tersebut, Turkiye dinilai dapat membantu Eropa memperkuat hubungan dengan negara-negara Global South melalui kemitraan strategis yang lebih berkelanjutan.
Kekuatan industri pertahanan Turkiye
Diriöz juga menyoroti perkembangan industri pertahanan Turkiye yang dalam dua dekade terakhir berubah dari sekadar pengguna teknologi pertahanan menjadi produsen berbagai sistem persenjataan modern.
Dia menyebut kemajuan Turkiye di bidang pesawat nirawak, platform laut, kendaraan lapis baja, rudal, peperangan elektronik, serta sistem komando dan kendali menjadi contoh yang dapat dimanfaatkan NATO, terutama ketika negara-negara Eropa berupaya membangun kembali kapasitas industri pertahanannya.
Menurutnya, NATO perlu membangun kerja sama industri pertahanan yang lebih inklusif dengan menempatkan Turkiye sebagai salah satu kontributor utama, bukan sekadar pemasok eksternal.
Harapan terhadap KTT NATO di Ankara
Diriöz mengatakan keberhasilan KTT NATO di Ankara setidaknya harus mampu memperkuat solidaritas internal aliansi serta memandang kawasan selatan dan timur NATO sebagai bagian dari satu kesatuan keamanan.
Dia menilai hubungan strategis yang lebih erat antara Turkiye dan Eropa akan menguntungkan kedua belah pihak. Turkiye akan memperoleh stabilitas, kemakmuran, dan pengaruh internasional yang lebih besar, sementara Eropa akan semakin kuat dalam pertahanan, diplomasi, dan hubungan dengan negara-negara Global South.
Menurut Diriöz, KTT Ankara memang tidak akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan NATO, namun dapat menjadi momentum untuk menentukan arah baru aliansi.
Dia menegaskan Turkiye memiliki seluruh perangkat yang diperlukan untuk memberikan kontribusi besar dalam NATO 3.0. Kini, menurutnya, tantangan utama adalah apakah negara-negara anggota mampu menunjukkan visi strategis yang dibutuhkan untuk membangun kerja sama yang lebih erat di tengah perubahan lingkungan keamanan global.