Sahin Demir
03 September 2026•Update: 03 September 2026
Iran menerima lebih dari 1 miliar dolar AS dari pendapatan minyak dalam periode 11 hari hingga 2 September, yang menambah cadangan devisa negara itu di tengah meningkatnya tekanan ekonomi Amerika Serikat (AS), menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars pada Kamis.
Mengutip dokumen yang ditinjau wartawannya, Fars melaporkan devisa yang berasal dari sektor minyak telah masuk ke cadangan devisa Iran selama periode tersebut.
Tambahan dana itu disebut akan meningkatkan kemampuan Bank Sentral Iran dalam memenuhi kebutuhan valuta asing negara tersebut.
Laporan itu juga menyebut penjualan minyak Iran selama lima bulan pertama tahun fiskal berjalan telah menghasilkan pendapatan setara lebih dari 80 persen dari proyeksi pendapatan minyak dalam anggaran Iran 2026–2027.
Tahun fiskal Iran tersebut berlangsung dari 21 Maret 2026 hingga 20 Maret 2027.
Pendapatan minyak perkuat cadangan devisa
Angka terbaru itu menyusul data serupa yang dirilis Kementerian Perminyakan Iran pada akhir Agustus.
Data tersebut menunjukkan devisa senilai 7,5 miliar dolar AS yang diperoleh dari penjualan minyak selama empat bulan pertama tahun fiskal, yakni dari 21 Maret hingga 22 Juli, telah ditransfer ke Bank Sentral Iran.
Angka tersebut muncul ketika Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
AS baru-baru ini meluncurkan “Operation Economic Outcast”, sebuah kampanye yang bertujuan memutus Iran dari saluran keuangan global serta membatasi kemampuan Teheran memperoleh dan membawa kembali pendapatannya ke dalam negeri, termasuk dari penjualan minyak.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap puluhan entitas, individu, dan kapal serta memperluas risiko sanksi sekunder bagi pihak-pihak yang tetap menjalankan bisnis dengan Teheran.